Sunday, October 20, 2013

IMAN, CINTA DAN SABAR

Maukah anda menjadi hafidz Al-Qur’an? Kebanyakan dalam pikiran anda sekarang, jawabannya adalah “ya, mau sekali”. Tapi, jika anda ditanya, “Maukah waktu bermain game anda dikurangi, waktu berkunjung ke rumah kawan anda juga diminimalisir, dan kehidupan foya-foya anda berubah, demi menghafal al-Qur’an?” Mungkin anda berpikir dua kali untuk melakukannya.

Mata pelajaran terberat yang dirasakan oleh kebanyakan Mahasiswa Indonesia di Al-Azhar, adalah tahfidz al-Qur’an. Melihat hal tersebut, Al-Azhar mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan standar hafalan mahasiswa asing.Terutama yang berasal dari Asia, termasuk Indonesia tentunya.Dari 2 juz pertahun, menjadi 1 juz.

Untuk beberapa saat, kabar ini menjadi angin segar. Tapi tidak lama setelah itu, 4 juz juga terasa berat. Wallahu a’lam, apa alasannya. Padahal waktu luang yang dimiliki untuk menghafal al-Qur’an, lebih dari cukup.

Anda memiliki 1 tahun untuk menghafal hanya +20 halaman al-Qur’an, alias 1 juz.Jika anda membutuhkan 1-2 jam untuk menghafal 1 halaman, seharusnya 8760 jam yang terdapat dalam satu tahun, amat cukup untuk menghafal 20 halaman tersebut. Apa masalahnya hal ini menjadi sulit?

Suatu ketika, penulis sedang berjalan-jalan dengan beberapa rekan. Dalam perjalanan tersebut, ada seorang kawan berkelakar, “Woi, nyalain musik dong!Sepi banget. Tapi jangan al-Qur’an ya, nanti gue kebakar. Hahaha.”

Perhatikan, sebenarnya itu hanya sebuah candaanbiasa. Tapi anda bisa menilai sendiri kan?-Walau tidak semua- ketika al-Qur’an tidak menjadi prioritas, bahkan menjadi guyonan, apakah mungkin, maddahal-Qur’anbisa anda kuasai dengan mudah?

Ini bukan tentang seberapa pintar anda dalam menghafal, atau seberapa luang waktu yang anda miliki. Ini tentang tiga hal : iman, cinta, dan sabar.

A.    Iman
Ingatlah, yang sedang anda hafal, bukan sembarang buku. al-Qur’an adalahbuku yang merangkum perkataan Allah SWT, pencipta alam semesta. Sedikit saja anda salah berinteraksi dengan kitab ini, akibatnya akan fatal. Penulismengistilahkan bahwa, al-Qur’anitu hidup.

Begitu juga sebaliknya, ketika anda merasa kurang pintar, hafalan lemah, sulit konsentrasi. Tapi anda percaya dan iman anda benar-benar mencengkram dalam hati untuk bisa menghafal al-Qur’an, yakinlahDzat penciptakan alam semesta ini, yang akan mengatasi semua kelemahan anda.

Syekh Sayyid Harun pernah bercerita. Suatu saat, beliau mendapati seorang muridnya menangis. Kemudian beliau mendekati muridnya tersebut dan bertanya,“Mengapa kamu menangis?” Kemudian sang murid menjawab,”Saya tidak sanggup melanjutkan menghafal, Ini terlalu sulit”.

Syekh hanya menyampaikan nasihat singkat, “Kamu harus yakin, dan kuatkan imanmu! Allah pasti membantu”. Beberapa bulan kemudian, perkembangan murid tersebut begitu pesat. Sampai akhirnya ia berhasil menghafalkan 30 juz al-Qur’an. Kemudian sang murid berterima kasih dan menyampaikan satu hal, “Ya Syekh, ini semua berkat nasihat antum, agar selalu percaya kepada pertolongan Allah”.

B.     Cinta
Anda pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Indah bukan? Setiap saat anda curahkan untuk sang kekasih. Waktu yang anda miliki, hanya untuk sang kekasih. Bahkan, anda rela mencuri kesempatan di tengah jadwal yang padat untuk sekedar sms pada sang kekasih. Cinta anda merupakan prioritas anda.

Coba bayangkan, bagaimana jika yang anda cintai adalah al-Qur’an?! Ketika anda jatuh cinta pada al-Qur’an, membacanya berjam-jam tidak akan melelahkan. Setiap hari penuh dengan Al-Qur’an. Bahkan, ketika sehari saja anda lupa membaca al-Qur’an, anda begitu merasa bersalah. DR. H, Harjani Hafni, MA pengarang buku the 7 islamic daily habits mengistilahkannya dengan “irama hidup”, ketika anda merasa bersalah karena meninggalkan hal yang biasa anda lakukan.

Mungkin hal tersebut kelihatannya terlalu idealis. Realitanya, amat sulit untuk bisa mencintai al-Qur’andan berasyik-asyik membacanya.

Salah satu ustadz penulis di pesantren, pernah menasihati kami dalam sebuah halaqoh,“seandainya kalianmencintai al-Qur’an, kalian akan menikmati manisnya membaca al-Qur’anitu”.

Saat itu, penulis dan teman-teman penulis bertanya-tanya,bagaimana caranya? Mencintai al-Qur’anitu berbeda dengan mencitai seseorang. al-Qur’an itu buku. Bagi penulis waktu itu, buku ya hanya benda mati. Berbeda dengan orang, yang bisa membalas kasih yang kita curahkan.

Kemudian Ustadz itu melanjutkan kata-katanya “yang kamu butuhkan, yaitu berkenalan sama Al-Qur’an. Gimana bisa cinta, kalau kenalan saja belum?”Beliau melanjutkan, “Caranya, coba deh, baca al-Qur’anwalau hanya beberapa ayat, di setiap saat. Ba’da sholat, baca qur’an. Mau berangkat sekolah, baca lagi, mau tidur, baca lagi. Istirahat, baca lagi. Terus gitu. Al-Qur’anselalu sedia di saku kamu”.

Memang, berangkat dari pengalaman, ketika hari-hari diisi oleh al-Qur’an, akan terasa begitu berbeda. Suasana lebih terasa “fresh”. Ketika ujian tahfiz tiba, penulis merasa lebih damai. Walau pusing menghafal, tapi suasana hati lebih tentram. Doa-doa lebih cepat terkabul, solat lebih khusyu, iman makin kuat. Penulis merasa,mungkin ini merupakan efek seringnya membaca al-Qur’an dalam persiapan ujian tersebut. Ini merupakan sensasi kasih sayang yang al-Qur’an curahkan. Anda juga bisa merasakannya.

C.    Sabar
Perisai apa lagi sih yang lebih ampuh dari dua hal yang Allah SWT sampaikan dalam ayatnya :

واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلاّ على الخاشعين
Berlindunglah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya hal itu begitu berat kecuali atas orang-orang yang khusyu’ (Al-Baqoroh: 45)

Sabar identik dengan menahan lelah hati ketika menunggu, atau menjalankan kegiatan tertentu. Tapi, tahukah anda ternyata sabar memiliki sisi lain yang terasa menyenangkan?

Hal itu tergantung dari sudut pandang anda menilai sabar itu sendiri. Misalkan, ketika anda membenci pekerjaan yang anda geluti, kemudian anda mencoba bersabar. Saat itu, sabar akan terasa begitu berat bagi anda.

Sebaliknya, ketika anda mencintai pekerjaan anda, tidak peduli seberat dan sepanjang apapun waktu yang anda butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Suasana akan terasa berbunga-bunga.

Sekarang, ketika anda menghafal al-Qur’an, apa presepsi anda tentang al-Qur’an itu sendiri? Mencintainya? Ataukah memang anda terbebani? Bersyukurlah jika anda sudah mencintainya. Tapi, jika anda terbebani, cobalah untuk merubah paradigma anda.Mengapa harus terbebani? Bukankah ketika anda sulit mengingat hafalan walau sudah berulang kali anda baca, itu akan tetap masuk hitungan pahala di sisi Allah SWT. Ya kan?


Ajaklah hati dan pikiran anda berkenalan dengan ilmu al-Qur’an. Dan banyak orang yang telah membuktikan, Allah SWT akan menyalakan cahaya cinta pada al-Qur’an di hati orang-orang yang memang menginginkannya.Itulah pentingnya iman, cinta dan sabar dalam menghafal al-Qur’an.Anda bisa melakukan teknik berikut:

No comments:

Post a Comment